Siong Nio merapatkan selimut. Udara dari luar menyelinap melalui kusen jendela menusuk pori-pori kulit membuatnya kedinginan. Kantuk masih memberati kepalanya dan rasa malas membuat sepasang kelopak matanya enggan terbuka. 

Pagi memang masih kelabu. Malam baru saja beranjak pergi. Lampu kota yang memancarkan cahaya oranye meredup lemah di sepanjang jalan kawasan Kebayoran, Jakarta. Hujan semalam membuat cuaca terasa lembap. Sing Nio berniat tidur kembali. 

Tapi tiba-tiba udara senyap pagi terkoyak oleh pekik tangis suara bayi yang melengking tinggi. “Oeek, oeek, oeek”. Siong Nio terkejut hingga terpental bangun. Matanya terbuka lebar. Bunyi itu terdengar begitu dekat. Pasti berasal dari depan jendela kamarnya yang berhadapan langsung dengan pekarangan rumah. 

Ia menyibak tirai. Tak cukup cahaya yang masuk ke matanya. Di luar, sinar matahari hanya berkemilau menyepuh embun pagi. Cahayanya berdenyaran menyemburat di antara dedaunan tanaman. Langit masih kelam, dalam terang tanah yang meraba jengkal halaman, ia tak bisa melihat siapa pun. 

Gadis yang menginjak remaja ini memutuskan keluar kamar. Di lorong dia bertemu Munah, pembantu rumah tangga yang sedang menyapu di selasar. Siong Nio memberi tahu tentang suara tangis itu. 

Munah pun langsung terbirit-birit keluar. 

“Ada bayi!!” teriaknya seketika. Paras Munah memias menatap sesosok bayi mungil di bawah pohon cemara. Dengan tangan sedikit gemetar Munah mengambil dan menggendongnya. 

Siong Nio yakin bayi itu baru saja diletakkan di bawah pohon itu. “Kalau sejak semalam pasti dia sudah akan menangis karena kedinginan, dan aku akan terbangun karena suara tangisnya,” batinnya.

Ny Lie, oma Siong Nio, yang datang karena keributan pagi itu terlihat sangat gembira atas kedatangan bayi mungil yang bagaikan sebuah hadiah besar dari Sinterklas. Ia lalu memerintah Munah memandikan dengan air hangat dan memberinya susu. 

Setelah peristiwa pagi itu, bayi-bayi mulai ditemukan di antara pot-pot besar atau di bawah pohon cemara, bahkan ada yang tergolek di dekat pagar atau teras rumah. Ada pula yang langsung diberikan ke tangan Ny Lie. Sing Nio pernah melihatnya. Si pemberi adalah perempuan berkebaya yang wajahnya dibebat selendang hitam sehingga yang tampak hanya sepasang matanya. 

“Ini adik kalian,” kata Ny Lie berseri-seri.

Ia membahasakannya sebagai adik, kepada kami, cucu-cucunya. Mendapati bayi di pekarangan rumah membuat Ny Lie yakin itu berarti ketiban rezeki, seperti memperoleh berkat dari Tuhan secara langsung. Baginya ini jalan Tuhan, jalan untuk melayani. Namun tak hanya itu yang Ny Lie perbuat. Ia juga kerap menyelusup ke pelabuhan dan memeriksa kapal untuk melihat apakah ada gadis-gadis malang dari Tiongkok yang bisa ditolong. Karena pengaruh kedudukan suaminya, Kapten Lie Tjian Tjoen, ia bisa mendapat bantuan dari polisi atau jaksa menyelamatkan gadis-gadis yang hendak dilacurkan di Batavia.

Mereka dipaksa melayani lelaki hidung belang atau menjadi istri muda atau simpanan. Sebagian yang berwajah tak menarik dipaksa jadi pembantu. Nasib itu makin menyedihkan karena mereka kerap mendapat perlakuan kasar dan siksaan fisik. 

(bersambung)

……………………………….

Han Gagas, alumni Geodesi UGM angkatan 1998, penerima penghargaan cerpen Kompas 2017, dan novelnya Balada Sepasang Kekasih Gila difilmkan Falcon pictures dan bisa ditonton di Klik Film (2022).

1 Comment

  • Triyatmoko

    29.08

    Senior panutan
    Tetap berkarya masbro, semoga ada yg difilm-kan lagi seperti Balada Sepasang Kekasih Gila

Comment

tulisan lainnya

Siong Nio dan Bayi-bayi yang Terbuang (2)

30.08

Gadis-gadis muda itu dibeli dari orang tua yang miskin dan memang secara tradisi tidak

  • No React!